Senin, 03 Oktober 2011

Berawal dari Sebuah Pengabdian

Jumat, 30 September 2011

Aku dan kedua teman baruku (Ardy Ardiyana dan Derri Dwima) langsung menuju desa kami, Mancagahar- Kabupaten Garut. Kami pergi tanpa dua orang teman kami yaitu kang Lukmawan Turadarmarikma dan teteh Nur Alfiya krn ada urusan lainnya .... Hanya kami tiga bocah bungsu yang nekad menuju Mancagahar langsung sepulang kuliah pukul 16.00 dari kampus kami....
Setibanya di kota garut kami berpindah menaiki kendaraan elp... satu-satunya kendaraan umum yang menuju ke desa mancagahar... Perjalanan dari Garut ke Mancagahar sangat panjang sampai menghabiskan waktu 4.5jam dengan keadaan jalan yang bergelombang, sangat berliku, dan berkabut... Jujur aku sangat takut dan bingung krn untuk pertama kalinya aku pergi sangat jauh dengan dua orang pria yang belum terlalu lama ku kenal, bahkan dengan teman2 dekatku pun tak pernah aku pergi sejauh, semalam, dan selama itu... Tapi semua itu kulakukan demi sebuah awal Pengabdian, aku buang rasa takut dan bingungku dan kunikmati perjalanan yang sangat seperti mimpi bagiku... Dimanapun kami berada kami selalu membuat keributan dan menghangatkan suasana sehingga aku dapat menikmati perjalanan yang sangat panjang itu...
Setibanya di Mancagahar semua sudah hening, sepi, gelap, tak ada seorangpun yang berkeliaran... hanya ada beberapa anjing liar yang sedang mangkal....
Suasana yang berbeda datang saat pagi menjelang.... suara ayam dan burung-burung membangunkanku.... kemudian suara penduduk Mancagahar dengan logat sunda yang sangat asing tapi lucu pun mulai terdengar... Ya begitulah Mancagahar bagiku, penduduknya sangat ramai, sopan, penuh canda, dan ramah... Aku sangat nyaman berada disana....
Mancagahar desa yang sangat indah, udaranya sejuk, sedikit polusi, dan takkan terlupakan... Hanya sedikit awal pengabdian yang kami kerjakan, hanya berjalan2 disekitar desa untuk melihat keadaan disana kemudian mengurusi sebuah surat sbg tugas pokok kami datang ke Mancagahar....



Daannnn bagian yang paling tidak terlupakan adalah saat kami memenuhi 'kebutuhan tersier' kami yaitu dengan menikmati keindahan pantai SANTOLO yg kami sebut OUR PRIVATE BEACH.... sangat indah, sangat sepi, dan satu-satunya pantai yang berhawa sejuk yang pernah kurasakan...
Hamparan pasir putih yang terbentang sepanjang pantai dan keindahan ombaknya menjadi pemandangan indah kami selama disana....
Batu-batu karang besar yang eksotis menghiasi pantai ini... (seeksotis jambul Derri Dwima)
Keadaan laut yang sedang surut membuat kami dapat menikmati 'akuarium pribadi' yang berisi berbagai makhluk laut kecil, ikan, bulu babi, teripang, siput laut, ular laut dapat kami lihat dengan jelas... Semuanya dulu hanya pernah kulihat di tv saja...
Pejuang-pejuang tangguh yang siap melaut untuk mencari ikan mulai beraksi saat sore menjelang....
Benteng-benteng batu besar dan kuat peninggalan Belanda (kata Ardy Ardyana) pun turut melukis keindahan pantai santolo kami....
Derri Dwima dan Ardy Ardiyana.... Kalian keluarga baruku.... Teruskanlah pengabdian kita (*dg gaya yakin kita..hahahahha).... jangan berhenti sampai disini... Riuh tawa kalian masih terus terdengar di telingaku... tingkah-tingkah nakal dan iseng kalian masih memutari otakku.... Ayyo kita terus semangat, dan semuanya pasti bakal lebih lengkap lagi klo ada kang Lukmawan Turadarmarikma dan teteh Nur Alfiya.....

Ayo kang Lukmawan Turadarmarikma dan teteh Nur Alfiya segera bergabung dengan trio bungsu (Ardy Ardiyana, Dise Amalia, Derri Dwima),,, biar kami ga berantem melulu...


Terimakasihh pengawal-pengawalku setelah 3 hari ngasuh dise...